Biro Psikologi & Pusat Pelatihan Solutiva Consulting Indonesia
SHARE :

Tes Minat Bakat & Penjurusan Online SMA Katolik Santo Fransiskus Assisi Samarinda

8
07/2020
Kategori : Berita Solutiva

Author : Solutiva Consulting


Tes Minat Bakat & Penjurusan Online SMA Katolik Santo Fransiskus Assisi Samarinda

SMA Katolik Santo Fransiskus Assisi Samarinda mempercayakan Biro Psikologi PT Solutiva Consulting Indonesia untuk melakukan tes minat bakat dan penjurusan untuk 150 calon siswanya.

Tes dilakukan dengan online, karena saat ini Solutiva Consulting juga menyediakan layanan Psikotes Online yang bisa diakses dan dilakukan dari seluruh Indonesia termasuk pelosok.

Untuk layanan psikologi di bidang pendidikan, Solutiva Consulting menyediakan:

  • Tes Minat Bakat
  • Tes Penjurusan
  • Tes Kesiapan Sekolah
  • Differentiate Classroom (Student Profile)
  • Layanan lain sesuai kebutuhan sekolah.

Untuk semua layanan di Bidang Pendidikan ini, silahkan Baca Klik Disini.

Jika tertarik menggunakan jasa PT Solutiva Consulting Indonesia, baik itu Psikotes, Rekrutmen/Seleksi, Assessment Center, Training, Konseling, dan lainnya bisa dilakukan tatap muka dan online, silahkan hubungi kami:

  • WhatsApp (1): 0812 9321 8681 (Bapak Armen)
  • WhatsApp (2): 0813 9227 9998 (Ibu Pipiet)
  • Email: [email protected]

Kami melayani klien dari seluruh Indonesia! Atau silahkan Hubungi Kami, Klik Disini!

Sekilas SMA Katolik Santo Fransiskus Assisi Samarinda

Cikal bakal lahirnya SMA Katolik Santo Fransiskus Assisi Samarinda tidak terlepas dari keberadaan Sekolah Santo Fransiskus Assisi pada jenjang sebelumnya, yakni Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Dasar (SD). Tahun 1993 pendidikan Play Group dan Taman Kanak-kanak didirikan yang pada saat itu masih bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Pengembangan dan Pembangun Rakyat (P3R). Sekolah Santo Fransiskus Assisi yang dikenal dengan sebutan sekolah ”Assisi” masih memakai nama yayasan P3R. Seiring berjalannya waktu Assisi juga mengalami perkembangan. Hal tersebut dirasakan dari tanggapan dan kepedulian masyarakat terhadap keberadaan Play Group dan TK Fransiskus Assisi dengan jumlah siswa yang semakin meningkat. Memang, pada awalnya dipikirkan akan mendirikan SD tetapi belum mendapat persetujuan bapak Uskup Agung Samarinda pada saat itu. Akhirnya dipikirkanlah untuk pendirian SMP.

Pendirian SMPK Santo Fransiskus Assisi didirikan tahun 2000 dan setelah tiga tahun sudah beroperasi, masyarakat mengusulkan kembali supaya SD didirikan. Alasan yang masuk akal, kalau anak-anak SD sudah tamat alangkah baiknya ada kesinambungan dalam melanjutkan pendidikannya.

Tahun 2003 berdirilah SDK Santo Fransiskus Assisi. Hal itu dibuat supaya memudahkan lulusan TK Assisi dalam memperoleh pendidikan tingkat dasar yang bernuansa Fransiskus Assisi Samarinda. Dalam perjalanan waktu nama yayasan juga berubah menjadi  Yayasan Elifa Mitra Setia (YEMS). Perkembangan Sekolah Santo Fransiskus Assisi dari jenjang Play Group sampai SMP menyedot perhatian beberapa masyarakat Samarinda yang mempunyai rasa simpatik terhadap keberadaan pendidkan Santo Fransiskus Assisi. Kerberadaan PG/TK, SD dan SMP rasanya tidak cukup lengkap bagi pendukung setia sekolah assisi. Mereka  mengusulkan kembali kepada pihak pengurus Yayasan Elifa Mitra Setia untuk mendirikan Sekolah Santo Fransiskus Assisi jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Usulan itu bermula dari masyarakat secara khusus orang tua yang anaknya ingin bersekolah di SMA Katolik Santo Fransiskus Assisi SamarindaSMAK Assisi. Yayasan menanggapi permohonan ini dengan mengajukan surat permohonan pendirian SMAK Assisi kepada Dewan Pimpinan Umum (DPU) Kongregasi Fransiskanes Santa Elisabeth Medan.

Pengurus Yayasan Elifa Mitra Setia mengusulkan surat (No.037/YEMS/I/DPU-FSE/VIII/2005 tanggal 31 Agustus 2005 dan surat susulan I No. 067/YEMS/I/DPU-FSE/XI/2005 tanggal 12 Nopember 2005) permohonan ini kepada Dewan Pemimpin Umum Suster Kongregasi Fransiskanes Santa Elisabeth yang pada saat itu di bawah kepemimpinan Suster Maria Petra Siringo-ringo FSE. Hal itu ditanggapi dengan baik oleh pihak kongregasi dengan menyurati pengurus Yayasan untuk menyatakan persetujuan pendirian SMAK ter tanggal 07 Desember 2005 (No.080/DPU-FSE/YEMS/IX/2005). Isi dari surat tersebut ialah SMA Katolik Santo Fransiskus Assisi Samarinda akan didirikan pada tahun pembelajaran 2006/2007, dan mohon persetujuan bapak Uskup Agung Samarinda yakni bapak Sului Florentinus MSF.

Dewan Pimpinan Umum Kongregasi FSE mengadakan kunjungan ke Samarinda dan mengundang Bapak Uskup Agung Samarinda untuk mengadakan pertemuan, membicarakan pendirian SMAK Assisi Samarinda. Berkat bantuan bapak Uskup melalui persetujuan pendirian SMAK maka direncanakan pembangunan SMAK pada tahun pembelajaran 2006/2007. Pembangunan gedung akan dilakukan di jalan Belatuk. Untuk sementara waktu menunggu pembangunan selesai siswa SMAK bergabung dengan SMPK.

Tahun 2006 SMAK didirikan dan pada tanggal 31 maret 2008 gedung SMAK di berkati dan diresmikan oleh bapak Uskup Agung Samarinda dan bapak Walikota Samarinda (Drs Achmad Amins, MM).

Penempatan Kepala sekolah yang pertama sebagai penenggungjawab  dibawah kepemimpinan Suster Maria Gabriel Naibaho, FSE, S.Pd ( SK No 123/YEMS/SK/I/VI/2006) dan didampingi oleh dua orang guru, yaitu Novemi Partandi, S.Pd (guru matematika) dan Sebetia  Sihotang, S.Pd (guru Bahasa Inggris) serta Ibu Serafina Ika Budiyanti sebagai Kepala Tata Usaha.Siswa angkatan pertama berjumlah 42 orang berasal dari lulusan SMPK Assisi dan beberapa dari SMP lainnya. Kendatipun siswa nya masih berjumlah 42 orang bukanlah menjadi penghalang untuk melakukan aktivitas akademik dan non akademik. Pengalamn jatuh bangun menjadi pendorong untuk semakin ingin berkembang. Hal ini dimulai dari pembentukan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Ketua OSIS yang pertama ialah Yusak  Bani Amm.

Sebagai sekolah rintisan, Sr. Gabriel bersama 2 orang guru tersebut harus mengampu beberapa mata pelajaran. Untuk memenuhi tuntutan kurikulum, sekolah mendatangkan guru dari unit lain untuk membantu mengajar beberapa bidang studi dan ditambah guru honor lepas (guru negeri/swasta yang sifatnya hadir pada saat ada jam mengajarnya).

Seiring berjalannya waktu siswa semakin bertambah, pada tahun ajaran  pembelajaran 2007/2008 pendaftar dan peminat sekolah Assisi bertambah menjadi  54 orang.  Rombongan belajar pun bertambah dan membutuhkan tenaga pengajar yang lebih banyak dari sebelumnya karena siswa angkatan pertama terbagi dalam dua jurusan, yaitu IPA (23 orang) dan IPS (19 orang).

Akhirnya, ada beberapa orang direkrut sebagai tenaga pengajar, yaitu Mutiara Sinaga, S.Pd (guru kimia) yang status kepegawaian nya sebagai guru kontrak dan beberapa guru honor lepas seperti: Kristoforus Gustian, S.S (guru Agama dan sosiologi), Kennedy Sitinjak (guru komputer) serta beberapa guru honor lainnya.  Kemudian awal tahun 2008, Ibu Tetty Rosenta Sinaga, S.Pd (biologi) dan Ibu Dwi Nasta Setyowati, S.Pd dan beberapa guru lain bergabung sebagai tenaga pengajar. Kehadiran beberapa guru baru merubah situasi dan kondisi yang sebelumnya sudah baik dan kondusif.

Kedatangan guru yang baru ini membawa perubahan yang kurang baik terhadap sekolah. Ada empat guru, yaitu Ibu Tetty Rosenta Sibaga, S.Pd, Mutiara Sinaga, S.Pd, Novemi Partandi, S.Pd dan Ibu Sebetia Sihotang, S.Pd mengajukan protes berkenaan dengan beberapa kebijakan kepala sekolah. Adapun salah satu tuntutan mereka adalah perlu taransparansi dari pihak sekolah sehingga mereka mengajukan agar kepala sekolah di ganti. Sikap para guru mulai mempengaruhi siswa untuk mogok belajar. Dengan kata lain mereka mengajukan dua pilihan kepada pihak pengurus yayasan yakni, agar memberhentikan kepala sekolah atau mereka yang harus keluar dari sekolah SMAK Assisi.

Dengan bijaksana, pihak yayasan memberikan sikap dan solusi yang tegas yakni yayasan memutuskan untuk mengeluarkan para guru yang terlibat “demonstrasi” karena alasan yang diajukan tidak cukup kuat untuk mengeluarkan kepala sekolah. Kondisi ini menyebabkan nama SMAK Assisi yang masih awal bertumbuh mengalami goncangan dan mengurangi kepercayaan masyarakat. Hal ini dirasakan pada saat siswa memasuki tahun pembelajaran 2008/2009. Siswa yang mendaftar berjumlah 38 siswa. Hal itu pun sudah terhitung siswa pindahan dari beberapa sekolah lain yang dalam catatan, “siswa yang dikeluarkan/tidak diterima disekolah yang bersangkutan”. Kepergian empat guru tersebut sangat memengaruhi siswa secara kejiwaan, karena banyak di antara para siswa yang “suka/sayang” terhadap ke empat guru tersebut. Guru-guru yang tidak terlibat dalam persoalan itu mengalami perjuangan untuk memastikan dan menjalani masa sulit tersebut bisa diatasi.

Pada tanggal 17 Juli 2008, diangkat kembali kepala sekolah yang baru dengan SK No: 199/YEMS/SK/I/VII/2008 atas nama Sr.M.Clara Panjaita FSE. Situasi sulit SMAK Assisi mulai ada perubahan ke arah yang positif. Siswa mulai bertambah menjadi 132 orang. Pada saat ini beberapa guru yang  bergabung dan mau mengajar di SMAK (antara lain: bapak Binata Prabawa, SE) yang merangkap sebagai wakil kepala sekolah bagian kurikulum. Belajar dari pengalaman yang sudah terjadi kepala sekolah bersama para guru dan pegawai yang ada, membuat beberapa kebijakan dengan mencoba belajar dari beberapa SMA yang lain termasuk mengajukan proposal dana (BOSDA) ke pemerintah. Mulai tahun pembelajaran 2009/2010 dan sampai sekarang pihak pemerintah menanggapi surat tersebut dengan bantuan berupa uang dan komputer, printer, meja, bangku, tong sampah dan buku-buku untuk perpustakaan (laporan tahunan 2010/2011)

Akhirnya sekolah membenahi peralatan yang tidak ada dan mempromosikan apa yang menjadi keunggulan SMAK Assisi.

Pada tanggal 15 Mei 2009 siswa angkatan pertama akan dilepas dari sekolah/diluluskan. Namun, sebelum sampai pada pelulusan ini Mengingat SMA Assisi belum memiliki status disamakan, Ujian Nasional Angkatan Pertama dilaksanakan di SMAN 2 Samarinda. Perjuangan mengikuti Ujian Nasional merupakan kenangan yang tak terlupakan bagi pihak SMAK Assisi dan para siswa karena pada saat itu kondisi hujan dan banjir sehingga mereka harus menggunakan truk untuk menghantar siswa Ujian ke SMAN 2. Kelulusan siswa ini menjadi momen yang paling penting untuk menentukan eksistensi sekolah, apakah layak atau tidak, dan juga sebagai penentu akreditasi pertama bulan Oktober 2009. Puji Tuhan semua akhirnya berjalan dengan baik dan berhasil 100%.

Prestasi Ujian Nasional Angkatan Pertama inilah yang ikut mengembalikan kepercayaan masyarakat sehingga pada tahun pembelajaran 2009/2010 siswa baru berjumlah 66 orang. Hal ini tentu melegakan segenap tenaga pendidik dan tenaga kependidikan SMAK Assisi, namun perjuangan tidak berhenti sampai di situ, akreditasi sebagai penentu kemandirian sekolah sedang menunggu di depan mata. Selepas Ujian Nasional, Kepala Sekolah dan segenap guru serta siswa-siswi konsentrasi mempersiapkan akreditasi bulan Oktober 2009. Pada hari Rabu, 14 Oktober 2009, para asesor Badan Akreditasi Nasional (BAN) provinsi, yaitu Ibu Dra. Hj. Norhaili dan Ibu Maria Ulfah menilai kelayakan SMA Assisi sebagai suatu lembaga pendidikan menengah yang setara dengan sekolah lain yang sudah terakreditas. Pada saat penilaian, dua asesor tersebut mengungkapkan apresiasi kepada SMA Assisi yang walaupun masih baru tetapi memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda dari sekolah lain.

Tepatnya tanggal 24 November 2009, surat keputusan dari BAN Provinsi menyatakan bahwa SMA Assisi mendapatkan nilai 85 (predikat B+). Nilai yang diberikan tentu mengagetkan Kepala Sekolah dan para guru karena hal itu bertentangan dengan fakta di lapangan. Berdasarkan pembicaraan dengan Pengurus Yayasan Elifa Mitra Setia, keesokan harinya Sr.M.Clara Panjaitan, FSE (kepala sekolah), bapak Binata Prabawa (Waka Kurikulum) dan bapak Kristoforus Gustian (Waka Kesiswaan) mengajukan protes dan siap diverifikasi oleh pihak BAN. Pihak BAN menyetujui akan diadakan verifikasi data bulan Desember 2009. Tepatnya tanggal 23 Desember 2009, ada tiga orang asesor dari Provinsi mengadakan verifikasi data dan bulan Januari 2010 mendapat nilai 87 (predikat A).

Dengan berakhirnya masa panjang dan menegangkan karena hasil akreditasi, SMAK Assisi dinyatakan status disamakan dengan sekolah lain, dan akreditasi berpredikat A. Segenap tenaga pendidik dan tenaga kependidikan SMAK Assisi sedikit bernafas lega dan siap untuk memberikan yang terbaik melalui berbagai kegiatan pertandingan dan perlombaan baik ditingkat kota maupun provinsi serta nasional. Jumlah siswa  baru angkatan 2010/2011 sangat meningkat, yaitu 234 orang. Prestasi yang diraih pada tahun 2010 sangat banyak, baik di bidang akademik maupun non akademik. Salah satu kejuaraan tingkat Kota Samarinda adalah Assisi Cup 2010, tepatnya diadakan bulan September-Oktober 2010, dimana SMA Assisi sebagai Juara Umum.

Tahun pun berganti, minat siswa untuk bersekolah di SMA Assisi semakin meningkat. Selain karena status ter akreditasi, prestasi membanggakan siswa -siswi menarik minat siswa siswi, baik dari dalam kota Samarinda, maupun luar kota Samarinda. Salah satu prestasi membanggakan dalam bidang akademik adalah SMA Assisi menduduki peringkat pertama hasil ujian nasional 2011. Pemberitaan prestasi UN tersebut menyebar luas se Kalimantan Timur melalui media cetak dan elektronik. Bulan November 2011, untuk pertama kalinya siswa SMA Assisi, Lukas Tobing, menang dalam ajang ASEC 2011 juara 2 tingkat Asia Tenggara. Pada tahun yang sama, siswi bernama Ganit Mirabeth Sonia, mewakili tingkat Provinsi di tingkat nasional dalam lomba Erlangga Speech Contest 2011 dan menempati posisi ke-7 tingkat nasional.

Kepercayaan masyarakat terhadap proses pendidikan di SMA Assisi semakin besar. Hal itu dilihat dilihat dari pendaftar dari tahun ke tahun.

  • v Tahun 2006: Laki-laki: 17, Perempuan: 25 jumlahnya 42 orang
  • v Tahun 2007: laki-laki: 42, Perempuan:50 jumlahnya 92 orang
  • v Tahun 2008: laki-laki: 59, Perempuan: 73 jumlahnya 132 orang
  • v Tahun 2009: laki-laki: 95, Perempuan: 58 jumlahnya 153 orang
  • v Tahun 2010: laki-laki: 93, Perempuan: 141 jumlahnya 234 orang
  • v Tahun 2011: laki-laki: 137, Perempuan: 171 jumlahnya 308 orang
  • v Tahun 2012: laki-laki: 162, Perempuan: 204 jumlahnya 366 orang
  • v Tahun 2013: laki-laki:171, Perempuan: 198 jumlahnya 369 orang
  • v Tahun 2014: laki-laki:168, Perempuan: 222 jumlahnya 390 orang

 

Hal itu ditandai dengan banyaknya siswa yang mendaftarkan diri dan mengikuti seleksi untuk masuk dalam kuato yang telah ditentukan.

Pada tahun pembelajaran 2011/2012 suasana di SMA Assisi semakin berbeda dengan bervariasinya latar belakang siswa berdasarkan pendidikan dan tempat asalnya. Banyak siswa dari luar Samarinda yang mendaftar, misalnya dari daerah KUBAR, KUTIM, TENGGARONG, dan beberapa kota lainnya. Hal ini tidak terlepas dari usaha dan kerjasama antara kepala sekolah, para guru/karyawan dan OSIS.

Bertepatan dengan perayaan  100 Tahun Pendidikan Katolik Di Kalimantan Timur, Yayasa Elifa Mitra Setia mengadakan berbagai perlombaan dan secara khusus untuk pertama kalinya perlombaan kompetensi guru. Dalam perlombaan tersebut semua guru ditest kemampuan pedagogik, sosial, profesionalisme dan akademiknya. Yang mendapatkan juara 1 adalah Ibu Fera Mandala Pesa Putri (guru matematika) SMA Assisi Samarinda. Tentunya hal ini sangat menggembirakan karena unit SMA menjuarai perlombaan tersebut.

Dengan bergantinya tahun 2011 ke tahun 2012, masa baru dengan semangat baru pun mulai. Nuansa pendidikan di SMA Assisi mengalami perubahan dari segi pengembangan minat dan bakat yangmana sebelumnya siswa mengembangkan bakatnya melalui kegiatan ekstrakurikuler, namun pada tahun 2012 mulai tumbuh Komunitas. Cikal bakal munculnya komunitas di SMA Assisi sebenarnya sudah mulai sejak tahun 2007 yaitu munculnya komunitas bahasa Inggris dengan nama Assisi English Community, namun pergerakannya kurang signifikan sehingga keberadaannya tidak terlalu memberikan dampak besar bagi perkembangan SMA Assisi.

Eforia pergerakan komunitas yang memberikan dampak besar bagi perkembangan SMA Assisi adalah munculnya Komunitas PIGERO (Choir dan Dance). Beberapa siswa yang terlibat dalam komunitas ini, antara lain Theresia Cendy Apsari, Ganis Mirabeth Sonia, dan Andro Sulu Padang. Ciri khas komunitas adalah anggota komunitas digerakan oleh siswa, tanpa pembina/guru pendamping. Mereka secara mandiri menjalankan aktivitas dan kreatifitas mereka dibawah pengawasan kesiswaan. Kemudian bermunculan komunitas yang lain, seperti PASKIBRA, Bahasa Indonesia, PIGERO (music), Jurnalistik/fotografi, dan Bahasa Jepang. Keberadaan komunitas ini memberikan efek yang besar pada tumbuhnya kreatifitas, kemandirian dan jiwa kepemimpinan siswa. Mereka terlibat dalam berbagai  perlombaan baik tingkat kota maupun provinsi (PIGERO CHOIR). Selain itu mereka mengisi berbagai kegiatan yang diadakan di lingkungan sekolah dan luar sekolah. Salah satu kegiatan sekolah yang didukung penuh oleh komunitas adalah ASSISI SHOW 2013.

Tahun 2013 merupakan tahun pertumbuhan yang luar biasa dan banyak kegiatan yang dilakukan di sekolah. Assisi Show 2013 merupakan kegiatan pertunjukan kreatifitas siswa dengan tema: “BORNEO SAVE OUR HOME”. Kegiatan ini dilakukan bulan Februari sebagai bentuk ungkapan rasa cinta pada alam sebagai saudara. Seperti halnya St. Fransiskus Assisi yang cinta akan alam, sebagai anak-anak Fransiskus siswa/i dilatih untuk peduli dengan alam sekitar melalui pertunjukan bakat. Yang walaupun kegiatan ini bertentangan dengan beberapa kebijakan yayasan, kegiatan ini tetap jalan dengan baik. Beberapa kegiatan lain dalam tahun ini antara lain untuk pertama kalinya pemilihan siswa teladan 2013 yang dimenangkan oleh Vania Juliana, pemilihan Guru Favorit masing-masing unit, Guru Berdedikasi  dan Guru Berwawasan Pendidikan yang diadakan oleh Yayasan Elifa Mitra Setia dalam mengisi Tahun Pendidikan YEMS. Dari Unit SMA Bapak Theodorus Goli Ruing, S.Fil sebagai Guru Favorit dan Bapak Kristoforus Gustian, S.Pd sebagai Guru Berdedikasi. Selain kegiatan-kegiatan di atas, ada kegiatan yang sangat menentukan eksistensi SMA Assisi yaitu akreditasi sekolah yang kedua.

Akreditasi sekolah tahun 2013 memiliki cerita hampir sama dengan tahun 2009. Persamaanya pihak BAN dua kali mengadakan akreditas, tahap pertama untuk penilaian, tahap kedua verivikasi data. Tepatnya tanggal 23 Oktober 2013 melakukan penilaian kelayakan sekolah dan berdasarkan asesment dari para asesor, Bapak Tito Y dan Bapak Ali W, memberikan nilai akreditasnya 99,75 (predikat A), namun hal ini diragukan oleh pihak BAN provinsi. Setelah melalui proses verivikasi data pihak BAN Provinsi Kaltim, akhirnya  pada tanggal 24 Desember  2013 BAN secara resmi mengelaurkan sertifikat dengan nilai 97,64 (predikat A).

Dari tahun ke tahun, minat siswa/i SMP untuk sekolah di SMA Assisi semakin besar. Sepanjang tahun 2014, keberadaan SMAK Assisi sangat beragam, baik dari siswa maupun tenaga pendidik dan kependidikan nya. Kehadiran guru-guru baru dan tentu saja masih muda memberikan situasi berbeda. Besar harapan kami untuk kedepan sekolah SMA Katolik Santo Fransiskus Assisi Samarinda akan lebih berkembang dan maju lagi. (Dikutip dari website sekolah SMA Assisi Samarinda)